Jakarta, tekno.newsline.id – Pemerintah menyiapkan program besar digitalisasi pendidikan dengan menyalurkan 330 ribu unit smart TV ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Langkah ini ditujukan untuk memperkecil kesenjangan akses teknologi pembelajaran antara sekolah perkotaan dan daerah terpencil.
Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Muhammad Qodari, menjelaskan bahwa dari total sekitar 450 ribu sekolah di Indonesia, sebanyak 330 ribu akan menjadi penerima smart TV. Dengan demikian, lebih dari 70 persen sekolah akan memiliki fasilitas layar digital untuk mendukung pembelajaran interaktif.
“Targetnya tahun ini sudah ada sekitar 100 ribu unit yang terdistribusi, sisanya menyusul hingga semua sekolah penerima terjangkau,” ujar Qodari di Jakarta, Sabtu (20/9/2025).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tahap awal program diprioritaskan untuk sekolah di luar Jawa dan daerah dengan akses terbatas, seperti Papua, Nusa Tenggara, Maluku, Kalimantan, dan Sulawesi. Pemerintah menilai wilayah-wilayah tersebut membutuhkan percepatan fasilitas digital agar kualitas pendidikan bisa lebih merata.
Meski demikian, pemerintah juga mengakui ada sejumlah tantangan. Tidak semua sekolah langsung bisa menerima perangkat karena keterbatasan listrik, jaringan internet, dan kesiapan guru dalam mengoperasikan teknologi baru. Untuk itu, kementerian terkait akan melakukan verifikasi serta memberikan pelatihan agar smart TV benar-benar dimanfaatkan secara optimal.
Program ini menuai beragam respons publik. Banyak yang menyambut positif karena dianggap solusi cepat memperkecil kesenjangan pendidikan, sementara sebagian pihak meminta transparansi terkait spesifikasi perangkat, ketersediaan konten belajar, serta anggaran perawatan.
Distribusi tahap pertama ditargetkan rampung sebelum akhir November 2025. Selanjutnya, pengiriman akan dilanjutkan secara bertahap hingga seluruh target 330 ribu unit tercapai.
Dengan program ini, pemerintah berharap sistem belajar mengajar di sekolah semakin modern, menarik, dan inklusif, sehingga siswa di pelosok Indonesia bisa merasakan pengalaman belajar digital yang sama dengan siswa di perkotaan.(*)








